BATAM — Keluhan masyarakat terkait aliran air bersih yang tersendat kembali menyorot pelayanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Batam.

BP Batam melalui Direktorat Badan Usaha SPAM menyatakan perbaikan dan optimalisasi terus dilakukan, meliputi infrastruktur, kapasitas produksi, dan distribusi.

Faktor cuaca serta rendahnya curah hujan juga disebut memengaruhi ketersediaan air baku, termasuk turunnya volume Waduk Nongsa yang berdampak pada produksi IPAM Nongsa.

Namun, penjelasan tersebut masih menyisakan pertanyaan publik: seberapa kuat kapasitas sistem SPAM Batam menghadapi persoalan tersebut?

Data mengenai jumlah pompa, kapasitas produksi masing-masing IPAM, volume air yang diproduksi dan didistribusikan, hingga tingkat kehilangan air perlu dibuka secara transparan.

Begitu pula penggunaan bahan kimia pengolahan air. Publik perlu mengetahui volume dan biaya pengadaannya serta bagaimana hasil pengujian kualitas air sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

BP Batam juga perlu menjelaskan hasil konkret dari optimalisasi interkoneksi jaringan, termasuk apakah langkah tersebut telah meningkatkan kontinuitas pelayanan dan wilayah mana yang masih mengalami gangguan.

Jika perbaikan terus berjalan, mengapa keluhan air tersendat masih terjadi di sejumlah wilayah?
Pertanyaan ini membutuhkan jawaban berbasis data, bukan sekadar pernyataan mengenai optimalisasi.

Keterbukaan tersebut penting agar masyarakat dapat membedakan apakah gangguan pelayanan dipengaruhi keterbatasan air baku, kapasitas produksi, kondisi jaringan, pengaturan distribusi, atau kombinasi beberapa faktor.

Pada akhirnya, keberhasilan pelayanan air tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, tetapi dari kemampuan sistem memastikan air yang memenuhi standar dapat mengalir secara cukup dan berkelanjutan kepada masyarakat.(Ari yanto)